Kejar Target Lifting, Pemerintah Tawarkan 110 Blok Migas Baru dan Masifkan Reaktivasi Sumur Tua
Jakarta, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berkomitmen menerapkan beberapa langkah strategis guna menghadapi tantangan penurunan produksi minyak nasional. Langkah ini dilakukan dengan memacu aktivitas di sektor hulu migas melalui tiga strategi utama yaitu optimalisasi teknologi, reaktivasi sumur tua atau idle dan percepatan eksplorasi di wilayah Timur Indonesia.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman saat menjadi pembicara sesi diskusi panel Hulu & Hilir Migas pada acara Energy Outlook 2026 yang bertema Exploring Indonesia's Energy Policy: Self-sufficient and Pro-people di Jakarta, Kamis (5/2), memaparkan bahwa per Januari 2026, Pemerintah telah menyiapkan 110 area potensi Wilayah Kerja (WK) migas baru yang mencakup sumber daya konvensional maupun non-konvensional.
“Dari 110 area potensi WK tersebut, 19 area telah diminti atau laku (awarded), 39 area dalam tahap joint study dan 52 area potensi lainnya. Area ini mencakup potensi konvensional maupun non-konvensional seperti shale gas dan coal bed methane,” pungkas Laode.
Pengembangan 110 area potensi WK ini difokuskan pada kombinasi teknologi tinggi, kebijakan insentif, dan fleksibilitas kontrak untuk menarik investor di sektor hulu. Langkah ini diharapkan dapat membalikkan tren penurunan produksi nasional dan membawa Indonesia kembali menuju kemandirian energi. Selain itu, Pemerintah juga tengah melirik potensi besar dari aset-aset yang sudah ada namun belum optimal. Saat ini, teridentifikasi sebanyak 6.305 sumur idle di seluruh Indonesia yang memiliki potensi hidrokarbon.
"Terdapat 6.305 sumur idle yang memiliki potensi hidrokarbon. Sebanyak 787 sumur dapat segera di-reaktivasi dan hampir empat ribu sumur lainnya berpotensi untuk dikerjasamakan guna mendorong penambahan produksi minyak Indonesia," papar Laode.
Indonesia pernah mengalami era keemasan perminyakan, namun mengalami penurunan sejak tahun 1997. Profil produksi minyak mentah Indonesia terus menunjukkan tren penurunan dalam tiga dekade terakhir. Pada tahun 1997 produksi minyak mentah mencapai 1.520 ribu barel minyak per hari dan pada tahun 2024 turun ke 580 ribu barel per hari. Sehingga meningkatkan produksi menjadi tantangan besar dalam sektor migas.
Meskipun saat ini tengah menghadapi tantangan natural decline, Laode menyampaikan bahwa kinerja di tahun 2025 memberikan optimisme dengan realisasi lifting minyak mencapai 605,3 MBOPD atau 100,05% dari target APBN. Sedangkan untuk lifting gas bumi di tahun 2025 lalu mencapai rata-rata 951,8 MBOEPD. Meski demikian, pada tahun 2025, seluruh kebutuhan gas tersebut dipasok dari produksi gas dalam negeri, tidak ada yang berasal dari impor.
“Pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan gas domestik, di mana dari total produksi 5.600 BBTUD, sebanyak 69% atau 3.908 BBTUD telah dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri tanpa bergantung pada impor gas,” pungkas Laode.
Pemerintah melalui Ditjen Migas Kementerian ESDM terus berupaya melakukan berbagai langkah strategis guna meningkatkan target lifting migas, mewujudkan ketahanan energi nasional dan menghadapi beberapa tantangan kegiatan usaha hulu migas dalam mencapai target produksi antara lain seperti natural decline, unplanned shutdown, kondisi alam seperti cuaca ekstrim, lokasi WK di remote area serta masalah pembebasan lahan. (KDB)
Sumber :Dirjen Migas